Belajar Manajemen Risiko dari Film ‘Long Road to Heaven’

(Ketua Pandjer School)

Belajar Manajemen Risiko dari Film ‘Long Road to Heaven’

A. Film itu Tentang Apa?
Bom Bali yang menelan banyak korban turis asing menjadi pukulan berat bagi perjuangan multikulturalisme di Indonesia yang telah lama dipandang menjanjikan bagi integrasi nasional. Dunia internasional mengecam keras aksi sporadis dan ekstrem para pelaku bom Bali beserta jaringan pendukungnya. Menjadi penting untuk mengeloborasi isu jihad berkedok agama Islam dengan isu sentimen berbasis ideologi: Islam dan liberal.

Film “Long Road to Heaven” telah menggambarkan dengan sangat memadai bagaimana risiko-risiko tak terduga telah mengakibatkan banyak kerugian pada banyak pihak. Amrozi, Imam Samudra, dan Muhklas, misalnya, telah memiliki cara pandang yang berseberangan dari kebanyakan kaum muslim. Alih-alih jihad memerangi orang –yang mereka anggap kafir- telah membawa pola pikir yang keliru bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan. Pelaku Bom Bali merasa bahwa tindakan untuk memerangi kekuatan asing yang menjajah islam harus diwujudkan secara nyata. Mereka menganggap diri mereka sebagai pahlawan islam yang sejati. Sebagai imbalannya, mereka meyakini bahwa surga akan pasti mereka dapatkan. Sebab mereka berjuang membela agama yang mereka anut.

Di sisi lain, para korban dan keluarga korban Bom Bali menganggap para pelaku pengeboman sebagai teroris yang jahat. Mereka mengklaim bahwa tindakan terorisme yang dilakukan dengan mengatasnamakan Islam dianggap sebagai perang yang diderukan kelompok Islam kepada kelompok yang lain. Hal ini ditentang oleh segolongan muslim yang menyatakan bahwa Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan, apalagi terorisme seperti yang mereka tuduhkan. Hanya sebagian orang islam yang memiliki penafsiran berbeda terhadap agama sehingga mengantarkan mereka pada hal-hal yang mencoreng reputasi Islam secara lebih luas.

Terorisme menjadi momok menakutkan yang menghasilkan risiko riil dalam sebuah masyarakat. Rasa aman dan rasa nyaman merupakan dua hal yang terpaksa dikorbankan oleh sekolompok orang yang mendambakan surga melalui sebuah jalan pintas, yakni bom bunuh diri. Singkatnya, aksi terorisme tetap saja tidak dapat dibenarkan oleh argumen manapun. Sebab, ia telah mengancam eksistensi sebuah tata kehidupan yang relatif mapan.

B. Apa Risiko yang Ditimbulkan?
Bom Bali telah membunuh dan menciderai banyak korban. Risiko terbesar aksi brutal yang terorganisasi tersebut memiliki dua cabang esensial. Pertama, kerugian Indonesia sebagai Negara yang dikenal memiliki kualitas keamanan memadai bagi para turis asing, terutama saat berkunjung di Pulau Bali. Hal ini membuat nama baik Indonesia di mata internasional memburuk. Krisis kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia terjadi secara signifikan dengan didukung pemberitaan yang luas oleh banyak media. Hal ini tentu akan berdampak pada iklim investasi, penerimaan negara dari sektor pariwisata, hingga sektor ekonomi mikro, seperti perhotelan, perdagangan, dan transportasi. Kedua, kerugian Islam sebagai kelompok mayoritas di Indonesia yang dikenal menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi dan Hak Asasi Manusia (HAM). Pasca Bom Bali, Islam dipandang ekstrem dan berbahaya oleh banyak pihak. Islam dijustifikasi sebagai agama yang mengajarkan kekerasan dan tidak menghargai nilai-nilai kemanusiaan. Nama Islam tercoreng secara menyeluruh. Streotype dan kecurigaan terhadap Islam semakin dirasakan dalam lingkup kehidupan terkecil dalam masyarakat. Hampir seluruh orang Islam dirugikan atas kejadian Bom Bali yang ternyata juga mengorbankan orang Islam, meski dalam jumlah yang relatif sedikit.

Ide besar untuk menjelaskan risiko yang muncul akibat aksi terorisme tampaknya lebih elegan jika disandingkan dengan konteks kepentingan para aktor. Risiko yang ditimbukan akibat terorisme dapat dikategorikan sebagai risiko manifes dalam hal politik, keamanan, hukum, ekonomi dan sosial. Namun risiko lain yang masih memburu ialah risiko laten yang tidak dapat diukur secara matematis, misalnya kepercayaan dan nama baik. Risiko berupa kerugian materi yang cenderung ekonomis belumlah memadai untuk menjelaskan keseluruhan risiko. Ringkasnya, risiko akibat terorisme membuahkan kerugian moril dan materil besar bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan.

C. Bagaimana Manajemen Pengelolaan Risiko yang Semestinya?
Risiko tidak dapat dihilangkan secara simultan. Namun, risiko setidaknya dapat dikelola melalui dua cara, yakni pencegahan dan penangan. Dalam aksi terorisme di Bali, sistem keamanan yang memungkinan antisipasi terhadap potensi teror tidak berjalan secara optimal. Sebab, tidak ada mekanisme profesional yang diterapkan oleh aparat keamanan untuk mendeteksi bahaya teror secara lebih dini. Penjagaan dengan standar kemanan yang berkualitas pada objek-objek vital semestinya dilakukan secara ketat dan tepat. Maksudnya, petugas keamanan yang berkompeten harus memastikan bahwa sebuah tempat yang rawan menerima aksi teror telah dinetralisasi secara periodik. Penting juga untuk memanfaatkan teknologi canggih dalam pendeteksian maupun sistem screening yang mampu memastikan masuknya benda-benda berbahaya seperti bom.

Dalam hal penanganan, kesiapan eksekusi para korban mutlak diperlukan untuk meminimalisasi bertambahkan korban meninggal. Fasilitas dan tenaga kesehatan harus memberikan pelayanan prioritas terhadap korban. Lebih dari itu, dalam konteks yang lebih luas, manajemen pengelolaan risiko dapat dilakukan dengan membuka ruang partisipasi masyarakat yang seluas-luasnya. Manajemen pengelolaan risiko berbasis masyarakat dipandang lebih berdampak, baik dalam pencegahan maupun dalam proses penanganan. Meskipun demikian, aparat keamanan sebagai manifestasi negara yang memberikan rasa aman harus memiliki tempat utama dalam sistem manajemen pengelolaan risiko. Sinergitas antara negara dan masyarakat dalam menciptakan keamanan akan berdampak konvergen terhadap kemungkinan terjadinya risiko yang lebih kecil.



Tidak ada komentar untuk "Belajar Manajemen Risiko dari Film ‘Long Road to Heaven’"